Minggu, 09 Juni 2019


SPOILER ALERT

Kisah Tragis Gadis Tapanuli

Oleh: Aisy


Gambar terkait
Judul               : Azab dan Sengsara
Penulis            : Merari Siregar
Penerbit           : Balai Pustaka
Tahun Terbit    : Cetakan kedelapan, 1988
                          Cetakan pertama tahun 1927
Kota Terbit      : Jakarta
Tebal buku      : 163 halaman, 21 cm

            Novel Azab dan Sengsara merupakan salah satu novel karangan Merari Siregar.  Merari Siregar adalah seorang sastrawan Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara dan lahir pada 13 Juli 1896.  Selain dikenal sebagai sastrawan, Merari Siregar juga merupakan seorang guru.  Sebelum menjadi guru, ia menempuh pendidikan guru di Kweekschool kemudian dilanjutkan ke Oosr en West, ‘Timur dan Barat’ di Jakarta.  Banyak karya yang telah ia curahkan dalam serangkaian tulisan selain dalam novel Azab dan Sengsara, beberapa di antaranya adalah Binasa Karena Gadis Priangan (1931) dan Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924).
            Dalam bukunya yang berjudul Azab dan Sengsara, Merari Siregar ingin menunjukkan adat dan kebiasaan kurang baik di tengah-tengah bangsanya.  Adat dan kebiasaan buruk yang ingin ditunjukkannya terutama di antara orang yang sudah menikah.  Tujuan Merari Siregar ini dicantumkan dengan jelas pada kata pengantar yang terdapat pada bagian awal novel ini.
            Novel ini merupakan sebuah novel sastra yang berjenis fiksi.  Hal ini terlihat dari ceritanya yang bersifat imajiner tetapi tetap masuk akal dan berlatar sehari-hari.  Cerita dalam novel ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi pengarang yang kemudian dimodifikasi sedemikian rupa agar lebih jelas.
            Novel ini memiliki alur campuran.  Cerita dalam novel bermulai dari diceritakannya Meriamin sebagai gadis muda yang cantik dan baik hati.  Meriamin atau yang kerap dipanggil Riam tinggal di sebuah rumah di pinggir sungai Sipirok bersama ibunya (Nuria) yang sakit-sakitan dan adik laki-lakinya.  Meriamin memiliki seorang sahabat sekaligus pujaan hatinya yang bernama Aminu’ddin atau yang dipanggil Udin.  Sifat dua orang yang saling menyukai ini saling bersamaan, keduanya adalah orang baik hati dan pengiba.  Namun, terdapat perbedaan dalam hal ekonomi antara Riam dan Udin.  Riam dan Udin sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan, karena ayahnya Riam dan ibunya Udin adalah adik-kakak.  Di tengah kehidupan Riam yang semakin susah, Udin terpaksa pamit pergi ke Deli untuk mencari pekerjaan.  Mereka saling berjanji untuk menjaga hati sampai saatnya tiba nanti.
            Penderitaan Riam dimulai saat ayahnya yaitu Sutan Baringi membuat suatu masalah yang mengakibatkan kemelaratan keluarganya yang sebelumnya berkecukupan dalam hal harta.  Sutan Baringin memanglah orang yang suka membuat perkara, hal ini sudah terlihat dari semenjak ia kecil, namun sayang ibunya selalu memanjakannya dan tak pernah memarahi sikap Sutan Baringin itu.  Sutan Baringin yang gelap akan kebenaran dan kesalahan pun menjadikan keluarganya sengsara di kemudian hari. Akibat kelakuan Sutan Baringin keluarga Riam jatuh miskin setelah banyak mengeluarkan uang dalam perkara harta warisan. 
            Setelah jatuh miskin, kesengsaraan Riam ditambah lagi dengan meninggalnya ayah Riam, Sutan Baringin.  Kematian ayah Riam menjadikan ibu Riam harus berperan sebagai ibu sekaligus bapak bagi anak-anaknya.  Ibu Riam terpaksa seorang diri menopang kebutuhan ekonomi keluarganya.
            Kesengsaraan Riam semakin diperparah setelah ayah Udin (Baginda Diatas) yang tidak menyetujui Udin untuk menikahi Riam.  Ibu Riam sendiri sudah mengingatkan Riam atas perasaannya kepada Udin yang merupakan anak bangsawan.  Baginda Diatas (ayah Udin) berpendapat Riam bukanlah calon dari keluarga yang setara dengannya, karena memang Baginda Diatas dianggap sebagai bangsawan di daerah tersebut sedangkan sebaliknya keluarga Riam dianggap hina di daerah tersebut.  Baginda Diatas meyakinkan istrinya agar tidak menyetujui pernikahan Udin dan Riam dengan bertanya kepada Dato (dukun) untuk meramal perjodohan tersebut.  Setelah keinginannya tercapai, Baginda Diatas segera menikahkan Udin dengan perempuan lainnya yang dianggapnya setara dengan keluarganya.
            Udin sebagai seorang anak tidak dapat membantah perintah orang tuanya.  Ia tidak ingin menjadi seorang yang durhaka kepada orang tuanya, dan ia tidak ingin membuat malu orang tuanya dengan membatalkan perjodohan yang direncanakan ayahnya tersebut.  Udin segera menjelaskan semuanya kepada Riam lewat sepucuk surat yang dikirimnya dari Deli.
            Setelah Riam mendapati penjelasan dari Udin, ia harus ikhlas menerima semua yang telah terjadi.  Walaupun hancur hatinya, tapi ia harus menerima semuanya.  Setelah lama, akhirnya ia menikah dengan Kasibun, seorang lelaki tua beristri banyak.  Sebenarnya Riam tidak ingin menikahi Kasibun, namun ia harus segera menikah agar tidak menjadi aib keluarganya, karena pada saat itu, perempuan yang terlambat menikah dianggap sebagai aib begitu pula perempuan yang bercerai.  Riam dibawa ke Medan untuk tinggal bersama Kasibun di sana.
            Pernikahan Riam dan Kasibun tidaklah berjalan dengan baik.  Pernikahannya hanya menambah beban hidup dan kesengsaraan Riam.  Kasibun adalah orang yang bengis dan tega memukul seorang wanita walaupun itu istrinya.  Riam yang tidak tahan akan kebengisan Kasibun akhirnya melaporkan hal tersebut kepada polisi setempat.  Akhirnya Riam bercerai dengan Kasibun, namun hal ini bukanlah pertanda baik untuknya, ia tetaplah akan melahap kesengsaraan karena hidup dalam kehinaan.  Azab dan sengsara bertubi-tubi datang menghampiri hidup Riam hingga akhirnya ia meninggal dan dikuburkan di kampung halamannya.
            Jika dibandingkan dengan novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli terbitan 1922, maka akan terlihat kesamaan dari segi jalan cerita.  Kisah percintaan yang menonjol terlihat dari kedua novel ini, terutama mengenai perkawinan paksa.  Tokoh sentral dalam kedua novel ini juga merupakan seorang perempuan.  Namun begitu, pada novel Siti Nurbaya ini diceritakan Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Maringgi untuk membayar hutang ayah Siti Nurbaya, sedangkan pada Azab dan Sengsara kekasih dari Riam lah yang dipaksa menikah dengan orang lain yang bukan pujaan hatinya, sehingga Riam akhirnya menikah dengan orang lain.  Latar yang diambil oleh novel Azab dan Sengsara kebanyakan berada di Sumatera Utara sedangkan novel Siti Nurbaya berlatar di Sumatera Barat.  Kedua novel ini adalah novel populer pada saat itu, hal ini menunjukkan tema yang populer pada tahun 1920-an adalah tema percintaan.
            Jika dibandingkan dengan karya Merari Siregar yang lain yaitu Si Jamin dan Si Johan maka kedua novel ini memiliki kesamaan dalam hal perjuangan bertahan dari beratnya kehidupan.  Namun, dalam novel Azab dan Sengsara lebih dititik beratkan kepada permasalahan percintaan dan memiliki tokoh dewasa.  Sedangkan tokoh utama dalam novel Si Jamin dan Si Johan adalah dua orang anak kecil adik-kakak.
            Banyak keunggulan yang terlihat pada novel Azab dan Sengsara.  Dilihat secara fisik novel ini memiliki keunggulan dengan dihadirkannya beberapa ilustrasi gambar yang dapat membantu pembaca dalam berimajinasi tentang situasi yang terjadi. Selain itu, terdapat keterangan mengenai istilah-istilah dalam bahasa Batak yang terletak di paling bawah halaman terkait.
            Secara internal kelebihan buku ini adalah alurnya yang diceritakan tersusun dengan baik sehingga tidak membingungkan pembaca.  Jalan cerita yang disajikan menarik karena banyaknya pengetahuan mengenaik kebudayaan khususnya budaya di Sumatera Utara.  Buku ini juga dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi pembacanya agar tabah menghadapi cobaan.  Latar yang diterangkan dengan sangat rinci mampu membawa pembaca berimajinasi dengan jelas, sehingga memudahkan pembaca memahami alur cerita.
            Tak banyak kekurangan yang terlihat dari novel ini.  Namun begitu, tak ada sesuatu yang sempurna termasuk novel ini.  Di dalam novel ini terdapat bagian yang membingungkan antara dialog dan narasi, terdapat istilah yang tidak umum tetapi tidak dituliskan artinya oleh pengarang novel sehingga membingungkan pembaca.
            Walau begitu, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca karena jalan ceritanya yang menarik dan dapat menambah wawasan.  Banyak nilai-nilai moral yang dapat menginspirasi pembaca untuk bisa bersabar menghadapi berbagai cobaan.

The World of Science . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates