Cerpen Remaja Unik
Kantong Ajaib
Oleh Umi Kulsum
Namaku Amira Santika. Umurku sebelas tahun, duduk di kelas
lima. Ayahku seorang dokter
terkenal. Kakakku, Kak Farah dan Kak
Reza, sudah SMP. Keduanya sangat pintar
dan sering menjadi juara kelas.
Tidak seperti aku. Kata teman-temanku, aku nakal. Kalau menurutku, aku cuma sedikit
pemarah. Misalnya, aku pernah melumuri
tas Aryo dengan lem kayu ketika prakarya.
Gara-gara ia memanggilku Taka.
Namaku Tika, bukan Taka. Tidak
ada yang boleh mengubah namaku seenaknya.
Nama itu pemberian Ibu. Aku
sayang Ibu. Bagiku, nama itu adalah
sebuah kebanggaan.
Aku juga pernah melempar sepatu
Jihan ke atas genting kelas. Dia yang
mulai, sih. Dia memamerkan kue buatan
ibunya dan mengatakan aku tidak bisa membawa kue buatan ibuku. Karena Ibu sudah meninggal setahun lalu. Aku tidak suka mendengar Jihan berkata
seperti itu. Membuatku sedih dan ingat
Ibu.
Sebulan lalu, penggaris Meika
kupatahkan. Gara-gara dia tidak mau
meminjamiku buku bahasa Indonesia. Aku
jadi tidak bisa mengerjakan tugas dari Bu Wulan. Bukuku sendiri tertinggal di mobil Ayah. Nah, bagaimana pendapatmu? Apakah aku memang nakal?
Akibat perbuatanku itu, beberapa
kali Ayah dipanggil oleh Bu Wulan, wali kelasku. Biasanya setelah bertemu Bu Wulan, Ayah akan
mengajakku ke toko buku dan membiarkanku memilih buku yang aku suka. Aku senang.
Pergi dengan Ayah membuatku gembira.
Sayang sekali Ayah sangat sibuk.
Sehingga tidak bisa berjalan-jalan denganku setiap hari.
Aku sedikit suka Bu Wulan. Dia tidak pernah menyebutku ‘nakal’. Jika aku bertengkar dengan
teman-temanku. Bu Wulan akan memanggil
kami dan meminta kami menceritakan asal mula pertengkaran. Setelah diberi nasihat, biasanya kami disuruh
saling meminta maaf.
Seperti kusebutkan tadi, aku Cuma
sedikit suka pada Bu Wulan. Habis Bu Wulan
sering memberi tugas. Aku tidak suka
tugas. Capek! Lihat, sekarang Bu Wulan
masuk membawa kantong-kantong kain kecil yang berwarna-warni. Bentuknya seperti kantong ponsel.
Kantong-kantong itu lucu dan
cantik. Kami membuatnya bulan lalu. Hiasannya dari manik-manik. Bu Wulan menyebutnya kantong ajaib. Menurut Bu Wulan, ia berharap dari kantong
itu akan muncul keajaiban. Misalnya, anak
yang tadinya pemalas, jadi lebih rajin setelah mendapatkan kantong itu. Tetapi, aku tidak suka bila kantong itu
dibagikan. Sebenarnya bukan pada
kantongnya, melainkan pada isinya. Kau
mau tahu sebabnya?
Begini ceritanya. Dua minggu lalu, Bu Wulan mengajarkan kami
mengungkapkan harapan atau keinginan yang ditujukan pada teman sekelas. Harapan itu ditulis di kertas memo
warna-warni dan dikumpulkan.
Misalnya, bila aku tidak suka
diejek Jihan, maka aku bisa menuliskan, “Aku berharap Jihan idak mengejekku
lagi”. Nanti Bu Wulan akan memasukkan
kertas itu ke dalam kantong milik Jihan.
Jadi, ketika kantong itu
dibagikan kepada pemiliknya, di dalamnya terdapat kertas. Jumlah kertas berbeda-beda, tergantung berapa
banyak anak yang menuliskan harapan pada pemilik kantong.
Saat itu, aku tidak tahu harus
menulis apa. Keinginanku banyak
sekali. Contohnya, aku ingin sepintar kakak-kakakku. Aku ingin Ibu hidup lagi (tidak mungkin,
bukan?) Aku ingin Ayah tidak terlalu sibuk.
Oh, aku lupa. Kata Bu Wulan,
ungkapkan harapan atau keinginan itu untuk teman sekelas, ya? Hm, itu tidak
sepenting harapanku yang tadi. Akhirnya,
aku tidak mengumpulkan apa-apa.
Ketika pulang, Bu Wulan membagikan
kantong ajaib itu. Aku terkejut. Karena kantongku berisi banyak kertas. Kuhitung, ada delapan lembar.
‘Aku berharap Tika lebih sabar.’ Itu dari Jihan.
‘Saya berharap Tika tidak gampang marah.’ Yang ini dari Meika.
‘Aku ingin Tika punya ibu baru supaya dia
senang.’ Yang satu ini dari Aryo.
Kertas Aryo adalah kertas
terakhir yang kubuka. Aku tidak mau
membaca sisa kertas yang lain. Tulisan
tentang ibu baru membuatku sedih.
Sisanya kubuang saja ke tempat sampah.
Esoknya, kantong-kantong itu dikembalikan kepada Bu Wulan dalam keadaan
kosong.
Sekarang Bu Wulan membawa kantong
ajaib lagi. Bu Wulan juga membagikan
kertas memo. Berarti kami harus menuliskan
harapan atau keinginan lagi.
Teman-temanku menulis dengan tenang.
Aku menggigit-gigit pensil. Apa
yang harus aku ungkapkan? Tidak
ada. Lagi-lagi aku tidak mengumpulkan
kertas. Bu Wulan tahu tapi cuma tersenyum. Ketika hendak kembali ke kantor, Bu Wulan
meminta bantuanku membawakan kertas-kertas itu.
“Kamu
tidak ingin menulis sesuatu, Tika?” tanya Bu Wulan di ruang guru. Aku menggeleng.
“Barangkali
ada yang ingin kamu ceritakan pada Ibu?” Bu Wulan bertanya lagi. Aku kembali menggeleng.
“Baik,
terima kasih sudah membantu. Tika boleh
istirahat,” katanya sambil tersenyum.
Aku cepat-cepat keluar. Aku tidak
suka ditanyai seperti tadi. Malu!
Kantong ajaib itu dibagi
menjelang pulang. Langsung kumasukkan ke
dalam tas. Sepertinya kantongku berisi
banyak kertas lagi. Nanti kubaca kalau
sempat. Kalau tidak sempat, disimpan
saja di dalam laci. Dan besok, kantong
itu bisa kukembalikan ke Bu Wulan. Bu
Wulan tidak akan tahu jika kertas-kertas itu tidak kubaca.
Sore hari ketika di dalam kamar,
aku mengeluarkan kertas-kertas itu. Ada
satu kertas yang berbeda. Berwarna putih
dan wangi. Aku membukanya pelan-pelan.
‘Tika yang baik, selamat ulang tahun.
Ibu ingin Tika tahu, Ibu sayang Tika.’ Tulisan itu adalah tulisan Bu
Wulan. Oh, Bu Wulan tahu bahwa ini hari
ulang tahunku? Bu Wulan sayang padaku? Bukankah aku nakal? Sering membuat
masalah? Hatiku berdebar membacanya.
Kalau betul Bu Wulan sayang padaku, itu mengejutkan sekaligus
menyenangkan! Aku membacanya berulang-ulang.
Kertas-kertas itu masih di atas meja. Apa isinya? Ragu-ragu kubuka salah satu.
‘Aku berharap Tika bahagia di hari ulang tahunnya sekarang.’ Dari
Sari, teman sebangku. Tidak kuduga Sari
juga ingat hari ulang tahunku. Kuambil
kertas yang lain.
‘Aku ingin Tika menjadi sahabatku.’ Tulisan Jihan. Aku juga mau menjadi sahabatnya. Pasti asyik punya sahabat sepintar Jihan.
‘Aku berharap Tika ingat dengan janjinya untuk mengganti penggarisku.’
Oh, aku lupa dengan janjiku pada Meika.
Akan kuberikan penggarisku untuk mengganti miliknya yang kupatahkan
dulu.
‘Saya harap Tika jangan terlalu sering marah-marah. Soalnya menakutkan!’
Aku memandang cermin di
depanku. Kucoba memelototkan mata dan
memajukan bibirku seperti saat aku marah.
Hiy, memang jelek dan menakutkan!
Aneh, sekarang aku merasa
berbeda. Apa karena tulisan Bu Wulan,
ya? Cepat-cepat kuambil selembar kertas.
Aku ingin menulis surat untuk Bu Wulan.
Bermenit-menit aku mencari kata-kata yang tepat. Ah, susah sekali! Akhirnya aku Cuma bisa
menulis: ‘Terima kasih, Bu. Tika juga sayang Ibu.’
Kantong ini memang ajaib karena
membuatku ingin berubah menjadi lebih baik.
Aku tidak mau menjadi anak pemarah lagi.
Kamu percaya, kan?
- Umi Kulsum : juara I Lomba Mengarang Cerita Anak oleh Guru tahun 2009 yang diselenggarakan Majalah Bobo dalam menyambut ulang tahunnya yang ke-36
- Sumber : Buku Kumpulan Cerpen Karya Guru 7 “Guru Juga Manusia” diterbitkan oleh PT Penerbitan Bobo
