Review Novel Sastra: Azab dan Sengsara
SPOILER ALERT
Kisah Tragis Gadis Tapanuli
Oleh: Aisy

Judul :
Azab dan Sengsara
Penulis : Merari Siregar
Penerbit :
Balai Pustaka
Tahun Terbit :
Cetakan kedelapan, 1988
Cetakan pertama tahun 1927
Kota Terbit :
Jakarta
Tebal buku :
163 halaman, 21 cm
Novel
Azab dan Sengsara merupakan salah
satu novel karangan Merari Siregar. Merari
Siregar adalah seorang sastrawan Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara dan
lahir pada 13 Juli 1896. Selain dikenal
sebagai sastrawan, Merari Siregar juga merupakan seorang guru. Sebelum menjadi guru, ia menempuh pendidikan
guru di Kweekschool kemudian
dilanjutkan ke Oosr en West, ‘Timur
dan Barat’ di Jakarta. Banyak karya yang
telah ia curahkan dalam serangkaian tulisan selain dalam novel Azab dan Sengsara, beberapa di antaranya
adalah Binasa Karena Gadis Priangan
(1931) dan Cerita tentang Busuk dan
Wanginya Kota Betawi (1924).
Dalam
bukunya yang berjudul Azab dan Sengsara,
Merari Siregar ingin menunjukkan adat dan kebiasaan kurang baik di
tengah-tengah bangsanya. Adat dan
kebiasaan buruk yang ingin ditunjukkannya terutama di antara orang yang sudah
menikah. Tujuan Merari Siregar ini
dicantumkan dengan jelas pada kata pengantar yang terdapat pada bagian awal novel
ini.
Novel
ini merupakan sebuah novel sastra yang berjenis fiksi. Hal ini terlihat dari ceritanya yang bersifat
imajiner tetapi tetap masuk akal dan berlatar sehari-hari. Cerita dalam novel ini dibuat berdasarkan
pengalaman pribadi pengarang yang kemudian dimodifikasi sedemikian rupa agar
lebih jelas.
Novel
ini memiliki alur campuran. Cerita dalam
novel bermulai dari diceritakannya Meriamin sebagai gadis muda yang cantik dan
baik hati. Meriamin atau yang kerap
dipanggil Riam tinggal di sebuah rumah di pinggir sungai Sipirok bersama ibunya
(Nuria) yang sakit-sakitan dan adik laki-lakinya. Meriamin memiliki seorang sahabat sekaligus
pujaan hatinya yang bernama Aminu’ddin atau yang dipanggil Udin. Sifat dua orang yang saling menyukai ini
saling bersamaan, keduanya adalah orang baik hati dan pengiba. Namun, terdapat perbedaan dalam hal ekonomi
antara Riam dan Udin. Riam dan Udin
sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan, karena ayahnya Riam dan ibunya
Udin adalah adik-kakak. Di tengah
kehidupan Riam yang semakin susah, Udin terpaksa pamit pergi ke Deli untuk
mencari pekerjaan. Mereka saling
berjanji untuk menjaga hati sampai saatnya tiba nanti.
Penderitaan
Riam dimulai saat ayahnya yaitu Sutan Baringi membuat suatu masalah yang
mengakibatkan kemelaratan keluarganya yang sebelumnya berkecukupan dalam hal
harta. Sutan Baringin memanglah orang
yang suka membuat perkara, hal ini sudah terlihat dari semenjak ia kecil, namun
sayang ibunya selalu memanjakannya dan tak pernah memarahi sikap Sutan Baringin
itu. Sutan Baringin yang gelap
akan kebenaran dan kesalahan pun menjadikan keluarganya sengsara di kemudian
hari. Akibat kelakuan Sutan Baringin keluarga
Riam jatuh miskin setelah banyak mengeluarkan uang dalam perkara harta warisan.
Setelah
jatuh miskin, kesengsaraan Riam ditambah lagi dengan meninggalnya ayah Riam,
Sutan Baringin. Kematian ayah Riam
menjadikan ibu Riam harus berperan sebagai ibu sekaligus bapak bagi
anak-anaknya. Ibu Riam terpaksa seorang
diri menopang kebutuhan ekonomi keluarganya.
Kesengsaraan
Riam semakin diperparah setelah ayah Udin (Baginda Diatas) yang tidak
menyetujui Udin untuk menikahi Riam. Ibu
Riam sendiri sudah mengingatkan Riam atas perasaannya kepada Udin yang
merupakan anak bangsawan. Baginda Diatas (ayah Udin) berpendapat Riam bukanlah calon dari keluarga yang
setara dengannya, karena memang Baginda Diatas dianggap sebagai bangsawan di
daerah tersebut sedangkan sebaliknya keluarga
Riam dianggap hina di daerah tersebut.
Baginda Diatas meyakinkan
istrinya agar tidak menyetujui pernikahan Udin dan Riam dengan bertanya kepada Dato (dukun) untuk meramal perjodohan
tersebut. Setelah keinginannya tercapai,
Baginda Diatas segera menikahkan Udin dengan perempuan lainnya yang dianggapnya
setara dengan keluarganya.
Udin
sebagai seorang anak tidak dapat membantah perintah orang tuanya. Ia tidak ingin menjadi seorang yang durhaka
kepada orang tuanya, dan ia tidak ingin membuat malu orang tuanya dengan
membatalkan perjodohan yang direncanakan ayahnya tersebut. Udin segera menjelaskan semuanya kepada Riam
lewat sepucuk surat yang dikirimnya dari Deli.
Setelah
Riam mendapati penjelasan dari Udin, ia harus ikhlas menerima semua yang telah
terjadi. Walaupun hancur hatinya, tapi
ia harus menerima semuanya. Setelah
lama, akhirnya ia menikah dengan Kasibun, seorang lelaki tua beristri
banyak. Sebenarnya Riam tidak ingin
menikahi Kasibun, namun ia harus segera menikah agar tidak menjadi aib
keluarganya, karena pada saat itu, perempuan yang terlambat menikah dianggap
sebagai aib begitu pula perempuan yang bercerai. Riam dibawa ke Medan untuk tinggal bersama
Kasibun di sana.
Pernikahan
Riam dan Kasibun tidaklah berjalan dengan baik.
Pernikahannya hanya menambah beban hidup dan kesengsaraan Riam. Kasibun adalah orang yang bengis dan tega
memukul seorang wanita walaupun itu istrinya.
Riam yang tidak tahan akan kebengisan Kasibun akhirnya melaporkan hal
tersebut kepada polisi setempat.
Akhirnya Riam bercerai dengan Kasibun, namun hal ini bukanlah pertanda
baik untuknya, ia tetaplah akan melahap kesengsaraan karena hidup dalam
kehinaan. Azab dan sengsara bertubi-tubi
datang menghampiri hidup Riam hingga akhirnya ia meninggal dan dikuburkan di
kampung halamannya.
Jika
dibandingkan dengan novel Siti Nurbaya
karya Marah Rusli terbitan 1922, maka akan terlihat kesamaan dari segi jalan
cerita. Kisah percintaan yang menonjol
terlihat dari kedua novel ini, terutama mengenai perkawinan paksa. Tokoh sentral dalam kedua novel ini juga
merupakan seorang perempuan. Namun
begitu, pada novel Siti Nurbaya ini
diceritakan Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Maringgi untuk membayar
hutang ayah Siti Nurbaya, sedangkan pada Azab
dan Sengsara kekasih dari Riam lah yang dipaksa menikah dengan orang lain
yang bukan pujaan hatinya, sehingga Riam akhirnya menikah dengan orang
lain. Latar yang diambil oleh novel Azab dan Sengsara kebanyakan berada di
Sumatera Utara sedangkan novel Siti
Nurbaya berlatar di Sumatera Barat.
Kedua novel ini adalah novel populer pada saat itu, hal ini menunjukkan
tema yang populer pada tahun 1920-an adalah tema percintaan.
Jika
dibandingkan dengan karya Merari Siregar yang lain yaitu Si Jamin dan Si Johan maka kedua novel ini memiliki kesamaan dalam
hal perjuangan bertahan dari beratnya kehidupan. Namun, dalam novel Azab dan Sengsara lebih dititik beratkan kepada permasalahan
percintaan dan memiliki tokoh dewasa.
Sedangkan tokoh utama dalam novel Si
Jamin dan Si Johan adalah dua orang anak kecil adik-kakak.
Banyak
keunggulan yang terlihat pada novel Azab
dan Sengsara. Dilihat secara fisik
novel ini memiliki keunggulan dengan dihadirkannya beberapa ilustrasi gambar
yang dapat membantu pembaca dalam berimajinasi tentang situasi yang terjadi.
Selain itu, terdapat keterangan mengenai istilah-istilah dalam bahasa Batak
yang terletak di paling bawah halaman terkait.
Secara
internal kelebihan buku ini adalah alurnya yang diceritakan tersusun dengan
baik sehingga tidak membingungkan pembaca.
Jalan cerita yang disajikan menarik karena banyaknya pengetahuan
mengenaik kebudayaan khususnya budaya di Sumatera Utara. Buku ini juga dapat memberikan motivasi dan
inspirasi bagi pembacanya agar tabah menghadapi cobaan. Latar yang diterangkan dengan sangat rinci
mampu membawa pembaca berimajinasi dengan jelas, sehingga memudahkan pembaca
memahami alur cerita.
Tak
banyak kekurangan yang terlihat dari novel ini.
Namun begitu, tak ada sesuatu yang sempurna termasuk novel ini. Di dalam novel ini terdapat bagian yang
membingungkan antara dialog dan narasi, terdapat istilah yang tidak umum tetapi
tidak dituliskan artinya oleh pengarang novel sehingga membingungkan pembaca.
Walau
begitu, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca karena jalan ceritanya
yang menarik dan dapat menambah wawasan.
Banyak nilai-nilai moral yang dapat menginspirasi pembaca untuk bisa
bersabar menghadapi berbagai cobaan.



